INDONESIA DARURAT MORAL!!
Kata-kata itu
telah lama berteriak di media sosial, surat kabar, buletin,
atau bahkan di hati kita semua. Mengapa, Indonesia bisa krisis
moral? Bukankah negara kita sangat menjunjung tinggi norma
kesopanan, susila, adat, dan sebangsanya? Barangkali.. itu dulu.
Setidaknya, hari ini kita dikejutkan dengan kasus-kasus memalukan
yang dilakukan oleh anak bangsa. Mulai dari kasus Yuyun yang
diperkosa dan dibunuh oleh anak di bawah umur. Sampai kasus
Enno Parinah yang tragis dan memilukan.
Tahun 2013, kita
dikejutkan dengan Kasus Fikri Dolasmantya, mahasiswa ITN yang
tewas dipelonco senior. Belum lagi dengan kasus remaja di
Cirebon yang tewas usai pesta miras oplosan. Dan masih banyak
kasus-kasus lainnya. Kasus-kasus yang terjadi di Indonesia tidak
lepas dari dekadensi moral. Berdasarkan survey KPAI (tahun
2010), 93,7% Remaja SMP, dan SMA pernah ciuman, petting, dan
oral seks, 97% pernah menonton film porno. Selain itu, 62,7%
remaja mengaku tidak perawan, 21,2 % pernah aborsi. Ada apa
dengan remaja Indonesia? Dan ada apa dengan negeri berpenduduk
muslim terbesar di dunia ini? Di zaman sekarang, sulit sekali
membentengi anak-anak remaja dari gempuran fitnah akhir zaman.
Mereka lebih dekat dengan pornografi, game, miras, rokok, virus
merah jambu, atau bahkan NAPZA, ketimbang kitab suci Al-Qur’an.
Alhasil, moral anak bangsa sedang bertarung melawan objek-objek
pembawa kerusakan tersebut.
Satu-satunya jalan untuk membentengi
anak-anak remaja dari kerusakan moral adalah dengan halaqoh
tarbiyah. Pendidikan Islam yang intens. Tidak hanya mengandalkan
mata pelajaran pendidikan Agama Islam, organisasi Rohis, Khotbah
Jum’at, ceramah di televisi, dan lain sebagainya. Tapi ada
pembinaan, penjagaan, dan proses ke arah perbaikan akhlak.
Pengenalan pada konsep keIslaman, dan berlangsung secara terus
menerus. Lewat tarbiyah inilah, sarana untuk menyelamatkan umat
dari kondisi yang memprihatinkan dan penuh kerusakan. Karena
pendidikan Islam yang menyeluruh dapat menjadi bekal sekaligus
benteng untuk menangkal pengaruh buruk. Jangan sampai, kita
melahirkan generasi yang krisis moral, jauh dari nilai-nilai
keagamaan. Sehingga pada akhirnya, generasi kita adalah generasi
yang lemah akidah, runtuh jiwanya, dan tak tahu kemana arah
hidup ini. Kesuksesan negeri ini tidak dilihat dari seberapa
banyak jumlah profesor, jumlah tenaga ahli di bidang sains,
atau meningkatnya kualitas industri hiburan.
Negeri kita butuh
orang-orang yang kuat rohaninya, kuat fisiknya, dan kuat
pikirannya. Sebab kita tengah digempur dengan perang pemikiran
yang mengikis akidah, menjauhkan kita dari penghambaan kepada
Allah. Kita tengah didesain untuk menjadi umat Islam yang
lemah. Jauh dari Al-Qur’an, jauh dari pendidikan agama, justru
takut terhadap agamanya sendiri. Sadarlah.. bahwa era akhir
zaman seperti ini, negeri yang paling dilanda kerugian adalah
kita. Target perang pemikiran adalah negara ini. Di saat
bangsa Eropa berpikir tentang hakikat dan tujuan hidup. Di saat
mereka bosan bermaksiat, dan bosan dengan arah hidup yang
dipenuhi kekosongan jiwa, lalu sekonyong-konyong mencari konsep
ketuhanan yang logis. Kita justru menjauh dari ketenangan hidup.
Menghamba pada lagu-lagu barat, pornografi, dan fashion. Dunia ini
bukanlah tujuan. Dunia ini hanya persinggahan sementara.
Bukankah telah nyata tandatanda kekuasaan itu? Saya yakin,
anak-anak yang tertarbiyah dengan baik, entah di rumah, di
sekolah, di kampus, ataupun di jalanan, hatinya lebih terpaut
pada Islam.
Pada aturan-aturan yang mengikat. Zaman sekarang,
kita tidak bisa mengandalkan aturan hukum yang tidak tegas.
Hukum di negeri ini tidak efektif, tidak ada efek jera.
Koruptor masih banyak. Pemerkosa, pembegal, pembunuh, pengedar
narkoba tidak habis-habis. Sebab, para pelaku kriminal tersebut
jauh dari tarbiyah. Saya rasa kita sudah teramat bosan dengan
kerusakan moral di negeri ini. Maka berjanjilah.. untuk menjadi
orang tua yang akan bersusah payah membentengi anak dari
pengaruh buruk dunia luar. Kita tentu sepakat, ingin punya anak
yang shaleh/shalehah. Tapi bukankah sulit mewujudkan hal
tersebut, jika kita sendiri masih jauh dari ajaran Islam?
Bukankah para bapak tidak bisa melarang anaknya untuk merokok
sambil menekan pemantik di ujung sigaretnya? Seorang yang
belajar psikologi perkembangan, tentu tahu bagaimana mengajarkan
anak pendidikan moral lewat keteladanan sikap. Pada akhirnya,
Tarbiyah yang menyelamatkan kita,_dari tipu daya setan. Dari
gemerlap kehidupan ini, yang penuh dengan fitnah, kebusukan, dan
kedzaliman. Saya yakin, jika tarbiyah telah menerangi setiap
rumah, sekolah, kampus, instansi pemerintahan, sudut-sudut jalan,
maka kasus-kasus memilukan di negeri ini takkan terulang. Sebab
tarbiyah yang menyelamatkan kita.
Heri Samtani
Masul FSI-KU 2016-2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar