يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الَّذِينَ اتَّخَذُواْ دِينَكُمْ هُزُواً وَلَعِباً مِّنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik) sebagai Wali (pemimpinmu). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.”
(QS: Al-Ma’aidah [5]: 57)
Ikhwahfillah, dari ayat tersebut dapat kita simpulkan maknanya bahwa sebagai seorang muslim kita harus memilih pemimpin yang beriman kepada Allah. Dan yang pasti tidak menjadikan agama kita sebagai sebuah ejekan dan permainan. Karena apabila seseorang tidak sama-sama beriman kepada Allah swt tentu tidak mengerti betul apa yang kita yakini, kerjakan dan kita tuju. Akan banyak muncul kontra dan ketidaksepakatan lainnya. Maka dari itu dari ayat ini terdapat perintah yang jelas mendasari kita untuk memilih dengan cermat dan sesuai.
©MCNR FSI-KU FBS UNJ 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar