*Hindari Debat Tanpa Ilmu*
Debat sudah seperti makanan sehari-hari.
Apalagi soal agama.
Tak jarang dijumpai perdebatan disana-sini. Tentang hukum inilah, itulah.
Apalagi soal agama.
Tak jarang dijumpai perdebatan disana-sini. Tentang hukum inilah, itulah.
Lalu...
🔍 Bagaimana hukumnya berdebat dengan cara batil atau tanpa ilmu dalam pandangan islam?
Simak penjelasannya berikut...
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ
Sesungguhnya
orang yang paling dimurkai oleh Allah adalah orang yang selalu mendebat.
[HR. Bukhâri, no. 2457; Muslim, no. 2668; dll]
Mendebat dalam
hadits diatas maksudnya adalah mendebat dengan cara batil atau tanpa
ilmu. Sedangkan orang yang berada di pihak yang benar, sebaiknya dia
juga menghindari perdebatan. Karena debat itu akan membangkitkan emosi,
mengobarkan kemurkaan, menyebabkan dendam, dan mencela orang lain.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَنَا زَعِيمٌ
بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ
مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ
كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ
خُلُقَهُ
Saya memberikan
jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meningalkan perdebatan
walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di tengah
surga bagi orang yang meningalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya
memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang
membaguskan akhlaqnya. [HR. Abu Dawud, no. 4800; dishahîhkan an-Nawawi
dalam Riyâdhus Shâlihîn, no. 630 dan dihasankan oleh Syaikh al-Albâni di
dalam ash-Shahîhah, no. 273]
Mengingkari
kemungkaran dan menjelaskan kebenaran merupakan kewajiban seorang
Muslim. Jika penjelasan itu diterima, itulah yang dikehendaki. Namun
jika ditolak, maka hendaklah dia meninggalkan perdebatan. Ini dalam
masalah agama, apalagi dalam urusan dunia, maka tidak ada alasan untuk
berdebat.
©MCNR FSI-KU FBS UNJ 2017
TAUSIYAH-KU (Jumat, 21 April 2017)
*Banyak tertawa mematikan hati*
Dapat dilihat sebuah hadist dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ
“Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.”(HR. At-Tirmizi no. 2227, Ibnu Majah no. 4183, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7435)
لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ
“Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.”(HR. At-Tirmizi no. 2227, Ibnu Majah no. 4183, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7435)
Dari Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa dia berkata:
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْتَجْمِعًا ضَاحِكًا حَتَّى أَرَى مِنْهُ لَهَوَاتِهِ إِنَّمَا كَانَ يَتَبَسَّمُ
“Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan tenggorokan beliau, beliau biasanya hanya tersenyum.” (HR. Al-Bukhari no. 6092 dan Muslim no. 1497)
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْتَجْمِعًا ضَاحِكًا حَتَّى أَرَى مِنْهُ لَهَوَاتِهِ إِنَّمَا كَانَ يَتَبَسَّمُ
“Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan tenggorokan beliau, beliau biasanya hanya tersenyum.” (HR. Al-Bukhari no. 6092 dan Muslim no. 1497)
Sebaik-baik
perkara adalah yang sederhana dan pertengahan. Tatkala Islam
mensyariatkan untuk banyak tersenyum, maka Islam juga melarang untuk
banyak tertawa, karena segala sesuatu yang kebanyakan dan melampaui
batas akan membuat hati menjadi mati. Sebagaimana banyak makan dan
banyak tidur bisa mematikan hati dan melemahkan tubuh, maka demikian
pula banyak tertawa bisa mematikan hati dan melemahkan tubuh. Dan jika
hati sudah mati maka hatinya tidak akan bisa terpengaruh dengan
peringatan Al-Qur`an dan tidak akan mau menerima nasehat.
Sebaiknya tertawa
sesekali atau ketika keadaan mengharuskan dia untuk tertawa, maka ini
adalah hal yang diperbolehkan. Hanya saja, bukan termasuk tuntunan Nabi
shallallahu alaihi wasallam jika seorang itu tertawa sampai
terbahak-bahak. Karenanya tertawa terbahak-bahak adalah hal yang dibenci
walaupun tidak sampai dalam hukum haram, wallahu a’lam.
Jadi lebih baik lagi kita tertawa hanya dengan tersenyum agar dapat meneladani rasulullah sallahu'alaihi wassalam.
Jadi lebih baik lagi kita tertawa hanya dengan tersenyum agar dapat meneladani rasulullah sallahu'alaihi wassalam.
©MCNR FSI-KU FBS UNJ 2017
TAUSIYAH-KU (Sabtu, 22 April 2017)
Ikhwahfillah, tahukah kalian jika ada banyak jenis rezeki dari Allah.
Diantaranya:
*1.Rezeki Yang Telah Dijamin.*
وَمَا مِن
دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ
مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ
"Tidak ada satu makhluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin ALLAH rezekinya."
(Surah Hud : 6).
"Tidak ada satu makhluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin ALLAH rezekinya."
(Surah Hud : 6).
*2. Rezeki Karena Usaha.*
وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
"Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya."
(Surah An-Najm : 39).
"Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya."
(Surah An-Najm : 39).
*3. Rezeki Karena Bersyukur.*
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu."
(Surah Ibrahim : 7).
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu."
(Surah Ibrahim : 7).
*4. Rezeki Tak Terduga.*
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا( ) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
"Barangsiapa yang bertakwa kepada ALLAH nescaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya."
(Surah At-Thalaq : 2-3).
"Barangsiapa yang bertakwa kepada ALLAH nescaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya."
(Surah At-Thalaq : 2-3).
*5. Rezeki Karena Istighfar.*
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ( ) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا
"Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta.”
(Surah Nuh : 10-11).
"Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta.”
(Surah Nuh : 10-11).
*6. Rezeki Karena Menikah.*
وَأَنكِحُوا
الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن
يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ
"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka ALLAH akan memberikan kecukupan kepada mereka dengan kurnia-Nya."
(Surah An-Nur : 32).
"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka ALLAH akan memberikan kecukupan kepada mereka dengan kurnia-Nya."
(Surah An-Nur : 32).
*7. Rezeki Karena Anak.*
وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ
"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu kerana takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.”
(Surah Al-Israa' : 31).
"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu kerana takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.”
(Surah Al-Israa' : 31).
*8. Rezeki Karena Sedekah*
مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada ALLAH, pinjaman yang baik (infak & sedekah), maka ALLAH akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak.”
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada ALLAH, pinjaman yang baik (infak & sedekah), maka ALLAH akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak.”
©MCNR FSI-KU FBS UNJ 2017
TAUSIYAH-KU (Minggu, 23 April 2017)
🔆Syarat Wanita Masuk Surga
.
Anda Wanita, ingin masuk surga???
Padahal di neraka kebanyakan wanita.
Lalu bagaimana wanita jika ingin masuk surga!!
.
Berikut ini penjelasannya!!!
.
Dalam satu riwayat Rasullulah bersabda bahwa mayoritas penghuni neraka adalah wanita, kenapa seperti itu karena banyak wanita yang mengabaikan hal-hal berikut ini yang sebenarnya sangat ringan untuk dikerjakan, hanya butuh satu ke-Istiqomahan saja.
seperti sabda Rasulullah berikut ini:
"Apabila seorang wanita ( istri ) itu telah melakukan shalat lima waktu , puasa bulan Ramadhan , menjaga harga dirinya dan mentaati perintah suaminya , maka ia diundang di akhirat supaya masuk surga berdasarkan pintunya mana yang ia suka ( sesuai pilihannya ) . "
( HR. Ahmad , Ibnu Hibban dan Thabrani )
"Apabila seorang wanita ( istri ) itu telah melakukan shalat lima waktu , puasa bulan Ramadhan , menjaga harga dirinya dan mentaati perintah suaminya , maka ia diundang di akhirat supaya masuk surga berdasarkan pintunya mana yang ia suka ( sesuai pilihannya ) . "
( HR. Ahmad , Ibnu Hibban dan Thabrani )
Berdasarkan
hadits di atas jelaslah bagi kita bahwa Allah Yang Maha Pengasih dan
Maha Penyayang telah memberi kesempatan emas bagi setiap wanita yang
beriman bahwa untuk memasuki surga - Nya yang penuh kenikmatan adalah
dengan mengikuti apa yang di perintahkan Allah dan Rasulullah dengan
penuh istiqomah.
©MCNR FSI-KU FBS UNJ 2017
©MCNR FSI-KU FBS UNJ 2017



Tidak ada komentar:
Posting Komentar