Ikhwatifillah, hendaklah seseorang berpikir dulu sebelum berbicara. Siapa tahu karena lisannya, dia akan dilempar ke neraka.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _“Sesungguhnya
ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak
dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke
neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan
barat.”_
(HR. Muslim)
(HR. Muslim)
Ulama besar Syafi’iyyah, An Nawawi rahimahullah dalam Syarh
Muslim tatkala menjelaskan hadits ini mengatakan, ”Ini merupakan dalil
yang mendorong setiap orang agar selalu menjaga lisannya sebagaimana
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ‘Barangsiapa
beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika
tidak maka diamlah.’
(HR. Bukhari dan Muslim).
(HR. Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, selayaknya setiap orang yang berbicara
dengan suatu perkataan atau kalimat, hendaknya merenungkan dalam dirinya
sebelum berucap. Jika memang ada manfaatnya, maka dia baru berbicara.
Namun jika tidak, hendaklah dia menahan lisannya.”
Itulah manusia, dia menganggap perkataannya seperti itu
tidak apa-apa, namun di sisi Allah itu adalah suatu perkara yang bukan
sepele.
Allah Ta’ala berfirman, _“Kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.”_
(QS. An Nur [24] : 15)
Allah Ta’ala berfirman, _“Kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.”_
(QS. An Nur [24] : 15)
Dalam Tafsir Al Jalalain dikatakan bahwa orang-orang biasa
menganggap perkara ini ringan. Namun, di sisi Allah perkara ini dosanya
amatlah besar.
Dengan Lisan, seseorang bisa ditinggikan derajatnya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _“Sesungguhnya
ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia
pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu.”_
(HR. Bukhari)
Ketinggian derajat di sini bisa diperoleh jika lisan selalu
diarahkan pada perkara kebaikan, di antaranya dengan berdo’a, membaca
Al-Qur’an, berdakwah di jalan Allah, mengajarkan orang lain di majelis
ilmu dan lain sebagainya. Atau dengan kata lain, ketinggian derajat
tersebut bisa diperoleh dengan mengarahkan lisan pada perkara-perkara
yang Allah ridhoi.
(Lihat Nashihatu Linnisa’, hal. 20)
(Lihat Nashihatu Linnisa’, hal. 20)
©MCNR FSI-KU FBS UNJ 2017

Tidak ada komentar:
Posting Komentar