أهلا وسهلا

أهلا وسهلا

Rabu, 19 Juli 2017

Bukti Seseorang Merasakan Manisnya Iman

TAUSYIAH-KU


Bukti Seseorang Merasakan Manisnya Iman
Assalamualaikum ikhwahfillah, kita sebagai seorang hamba pasti cinta dan sayang terhadap sang pencipta, Allah swt.
.
Lalu bagaimana agar kita dapat merasakan kecintaan tersebut terhadap Allah swt.?
.
Salah satunya melalui iman, berikut ini penjelasannya 👇👇👇
.
Seseorang akan merasakan manisnya iman bermula manakala di dalam hatinya terdapat rasa cinta yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya, manisnya akan semakin dirasakan bila seseorang berusaha untuk senantiasa menyempurnakan cintanya kepada Allah, memperbanyak cabang-cabangnya (amalan yang dicintai Allah Subhanahu Wa Ta'ala.) dan menangkis hal-hal yang bertentangan dengan kecintaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Apa buktinya bila seseorang telah merasakan manisnya Iman?
Buktinya, ia akan selalu mengutamakan kecintaanya kepada Allah daripada mementingkan kesenangan dan kemegahan dunia, seperti bersenang-senang dengan keluarga, lebih senang tinggal di rumah ketimbang merespon seruan dakwah dan asyik dengan bisnisnya tanpa ada kontribusi sedikitpun terhadap kegiatan jihad di jalan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Taubah : 24
“Katakanlah: “Jika bapa-bapak, anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”
Memprioritaskan kecintaan kepada Allah akan melahirkan perasaan ridha
Bila seseorang senantiasa mengutamakan kecintaan kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan-Nya, daripada kepentingan dirinya sendiri, maka akan lahirlah sikap ridha terhadap Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai din-nya dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasulnya.
Keridhaannya itu dibuktikan dengan selalu menghadiri halaqahnya, terlibat dengan kegiatan dakwah di lingkungannya dan menginfakkan sebagian harta dan waktunya untuk kemaslahatan tegaknya agama Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

©MCNR FSI-KU FBS UNJ 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar