Bismillaahirrahmaanirrahiim
Pesan Cinta Buat Ukhtiku tersayang, semoga selalu dalam lindungan Allah. Aamiin
24/Rabiul Awal/1437H
Pesan Cinta Buat Ukhtiku tersayang, semoga selalu dalam lindungan Allah. Aamiin
24/Rabiul Awal/1437H
Assalaamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah yang Inn Syaa Allah akan selalu menjadi sandang, pangan, dan papan untuk ukhti berkehidupan di dunia, serta bekal di akhirat kelak. Shalawat dan salam marilah kita curahkan kepada Rasulullah SAW, yang tak henti-hentinya menitipkan rindu kepada ummatnya 1400 tahun silam. Semoga Beliau berkenan memberikan syafa'at kepada kita di Yaumul Mahsyar nanti.
Alhamdulillah puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah yang Inn Syaa Allah akan selalu menjadi sandang, pangan, dan papan untuk ukhti berkehidupan di dunia, serta bekal di akhirat kelak. Shalawat dan salam marilah kita curahkan kepada Rasulullah SAW, yang tak henti-hentinya menitipkan rindu kepada ummatnya 1400 tahun silam. Semoga Beliau berkenan memberikan syafa'at kepada kita di Yaumul Mahsyar nanti.
Ukhti shalihah yang kusayang, waktu telah melompat waktu,
seperti kata melompat paragraf, seperti hari melompat minggu, minggu
melompat bulan, bulan melompat tahun, begitupun seterusnya. Maka atas
waktu yang telah Allah perkenankan pula bagiku, akhirnya kusampaikan
pesan cinta ini padamu, atas nama ukhuwah 
Ukhti sayang, kala kutuliskan pesan ini, bukanlah tidak
muncul keraguan dan ketakutan akan hujatan takut dibilang "sok alim" lah
, "sok suci!" bahkan kata demi kata yang subhanallah tidaklah pantas
dituduhkan bagi saudarinya sesama muslim. (Semoga Allah memberi hidayah
bagi kita semua), namun ukhtiku sayang, perlu kau tahu bahwa aku lebih
takut bila tak dapat menjalankan amanah yang telah Allah berikan
kepadaku berikut kepadamu pula, yaitu sebagai pemimpin/khalifah di muka
bumi.
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”
(HR. Bukhari)
Ketakutanku tak sampai itu wahai ukhti, pertama bahwa aku
pun takut tak dapat menjalankan perintah Allah padahal mulut ini kering
menyampaikan, jari ini keriting berkoar seperti memaksa, urat-urat ini
tercekik tak tahan melihat hal yang diluar batas..
Kedua bahwa dada ini sesak atas kemaksiatan yang semakin mengejawantah dimana-mana, aliran darah seperti naik, saat manusia mengatasnamakan Syaitan di dalam hatinya. Naudzubillahimindzalik.
Ketiga, akupun sadar sebagaimana amalku yang sedikit, serta dosa-dosaku di masa lalu yang setiap detiknya meneror dengan amat kejam. Tapi sungguh Allah Maha pemaaf dan Maha penerima taubat.
Kedua bahwa dada ini sesak atas kemaksiatan yang semakin mengejawantah dimana-mana, aliran darah seperti naik, saat manusia mengatasnamakan Syaitan di dalam hatinya. Naudzubillahimindzalik.
Ketiga, akupun sadar sebagaimana amalku yang sedikit, serta dosa-dosaku di masa lalu yang setiap detiknya meneror dengan amat kejam. Tapi sungguh Allah Maha pemaaf dan Maha penerima taubat.
Ukhtifillah adakah engkau sering menerka-nerka bagaimana
kehidupanmu kelak apabila engkau hendak berhijrah? Tentunya hijrah ke
arah yang lebih baik.
"Malu", "Kuno", "Tua" pasti acapkali kau dengar tak hanya dari luar daun telingamu, namun juga dari dalam hatimu. Cercaan, ejekan, dan hinaan tentu akan menjadi makananmu sehari-hari, sehingga batal pula niatmu menuju kebaikan. Malu karena tak lagi mengikuti trend pakaian terkini, malu karena tak dapat lagi berkata kasar dan melukai hati saudaramu, malu karena tak dapat lagi ikut 'nggossip' dan membuka aib sesamamu, malu karena tak dapat lagi berjabat tangan dengan yang bukan mahrammu, malu tak kena lagi bersenda-gurau dengan lawan jenismu, malu harus menahan tawa haha-hihi di tempat umum, malu karena ikut pengajian, malu karena hijab serta khimar yang orang bilang "itu hijab apa mukena? panjang bener!" padahal sejatinya hijab adalah penutup yang bisa dipakai untuk sholat, malu karena harus selalu mengenakan kaus tangan dan kaki demi menjaga auratmu, malu tak dapat lagi pergi ke mall dan tempat makan enak agar dibilang 'hits', sedang saudarimu di belahan bumi yang lain tengah kelaparan. Malu karena ketinggalan zaman dan sibuk mencari satu yang paling cantik dari ribuan foto yang ada di dalam ponsel pintarmu untuk kau pamerkan kepada mata para lelaki yang haus itu. Malu karena tak punya pacar yang kau bilang sehidup semati, bukan sehidup se-syurga, malu karena malam minggu hanya bisa tilawah di dalam kamarmu sementara kawan sebayamu tengah asyik berbisik-bisik tentang perubahanmu, malu karena dibilang "Dakwah terus! Kayak udah bener aja, ustadzah KaWe!"
Astaghfirullahaladzim..
"Malu", "Kuno", "Tua" pasti acapkali kau dengar tak hanya dari luar daun telingamu, namun juga dari dalam hatimu. Cercaan, ejekan, dan hinaan tentu akan menjadi makananmu sehari-hari, sehingga batal pula niatmu menuju kebaikan. Malu karena tak lagi mengikuti trend pakaian terkini, malu karena tak dapat lagi berkata kasar dan melukai hati saudaramu, malu karena tak dapat lagi ikut 'nggossip' dan membuka aib sesamamu, malu karena tak dapat lagi berjabat tangan dengan yang bukan mahrammu, malu tak kena lagi bersenda-gurau dengan lawan jenismu, malu harus menahan tawa haha-hihi di tempat umum, malu karena ikut pengajian, malu karena hijab serta khimar yang orang bilang "itu hijab apa mukena? panjang bener!" padahal sejatinya hijab adalah penutup yang bisa dipakai untuk sholat, malu karena harus selalu mengenakan kaus tangan dan kaki demi menjaga auratmu, malu tak dapat lagi pergi ke mall dan tempat makan enak agar dibilang 'hits', sedang saudarimu di belahan bumi yang lain tengah kelaparan. Malu karena ketinggalan zaman dan sibuk mencari satu yang paling cantik dari ribuan foto yang ada di dalam ponsel pintarmu untuk kau pamerkan kepada mata para lelaki yang haus itu. Malu karena tak punya pacar yang kau bilang sehidup semati, bukan sehidup se-syurga, malu karena malam minggu hanya bisa tilawah di dalam kamarmu sementara kawan sebayamu tengah asyik berbisik-bisik tentang perubahanmu, malu karena dibilang "Dakwah terus! Kayak udah bener aja, ustadzah KaWe!"
Astaghfirullahaladzim..
Namun apakah engkau tidak pernah merasa malu dengan Allah
Yang Maha Pengasih, apakah engkau tidak pernah merasa malu sebab kau
tidak pernah mendatanginya, bahkan cenderung meninggalkan perintahnya?,
seperti salah satunya perintah untuk berhijab secara sempurna!! seperti
telah dituliskan-Nya di dalam surat cinta bernama Al-Qur'an seindah
mungkin, secantik mungkin, dan sebijaksana mungkin.
Hai Nabi,katakanlah pada istri-istrimu,anak-anak
perempuanmu dan istri-istri orang mukmin:”Hendaklah mereka mengulurkan
jilbabnya keseluruh tubuh mereka.”Yang demikian itu supaya mereka lebih
mudah untuk dikenal,karena itu mereka tidak di ganggu.Dan Allah adalah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS.33 al-Azhab:59)
Maa Syaa Allah tidakkah engkau melihat kembali kesempurnaan Al-Qur'an ukhti sayang?
Apakah kau tak pernah merasa malu terhadap Allah yang
memiliki ketentuan di atas ketentuan, yang sewaktu-waktu akan
memanggilmu, namun bekalmu belum cukup?
Tidakkah engkau merasa malu terhadap Allah karena tak dapat menjaga auratmu, tak dapat menjaga pandanganmu, menjaga lisanmu, menjaga seluruh aset yang ada di dalam dirimu untuk kau persembahkan seutuhnya hanya untuk suamimu?
Apakah rasa malu itu telah hilang, ukhti sayang? Sehingga malu yang kau benamkan pada wajah jelitamu adalah malu kepada manusia? Tetapi bukan karena Allah? Mengapa begitu wahai saudariku?
Tidakkah engkau merasa malu terhadap Allah karena tak dapat menjaga auratmu, tak dapat menjaga pandanganmu, menjaga lisanmu, menjaga seluruh aset yang ada di dalam dirimu untuk kau persembahkan seutuhnya hanya untuk suamimu?
Apakah rasa malu itu telah hilang, ukhti sayang? Sehingga malu yang kau benamkan pada wajah jelitamu adalah malu kepada manusia? Tetapi bukan karena Allah? Mengapa begitu wahai saudariku?
Pun jika memang tak begitu, apakah yang lebih engkau utamakan daripada Allah azza wajalla, ukhti sayang?
Kemudian perihal jodoh?
Allah lah yang akan menentukan segalanya, sebagaimana telah terukir dengan pahatan yang sempurna di lauhul mahfudz, tak dapat menguap apalagi terkikis. Bukankah janji Allah itu pasti?
Allah lah yang akan menentukan segalanya, sebagaimana telah terukir dengan pahatan yang sempurna di lauhul mahfudz, tak dapat menguap apalagi terkikis. Bukankah janji Allah itu pasti?
Saudariku yang baik akhlaknya, percayalah bahwa apabila dia
mencintaimu, dia akan datang menemui walimu, memintamu dengan hormat
dan penuh tanggung jawab, menyanggupi bahwa kelak di bahunya lah
kelelahanmu bersandar, di hatinya lah kelak engkau akan menjadi
satu-satunya bidadari yang menemaninya di dunia dan di dalam Jannah. Pun
aku berdoa semoga kelak dia adalah pemimpin yang tangguh menjaga
saudariku yang shalihah ini, semoga dia adalah lelaki yang amat
mencintaimu, orang tuanya, orang tuamu serta ummat sesamanya, walaupun
tidaklah cintanya lebih besar terhadap Allah dan Rasulullah. Sungguh
yang demikian itu pastilah membuatmu ikhlas.
Saudariku yang kukasihi, mulailai bersama-sama denganku
memperbaiki diri, karena hijrah sejatinya memang butuh teman, marilah
kita membentuk lingkaran kebaikan. Seperti rumput yang tak pernah
sendiri menghiasi rangka kehidupan, jadilah satu dari sejuta rumput yang
lembut, namun kelembutannya justeru mengisyaratkan kekuatan, yang
selalu bangkit dan tak pernah gentar meski diinjak beribu kali.
Ukhti sayang, demikianlah semoga Allah selalu menjagamu,
melindungimu, mencintaimu dengan dahsyatnya, serta mempermudah urusanmu
dalam mencari ilmu atau urusan lainnya. Semoga engkau pun senantiasa
mencintai kedua orang tuamu sehingga setiap hasta yang kau lewati
beserta pula dengan restu yang sempurna. Aamiin Allahumma Aamiin
Wassalaamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Tertanda Saudarimu
Hafsha Hurat Fadita
Hafsha Hurat Fadita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar