أهلا وسهلا

أهلا وسهلا

Rabu, 24 Mei 2017

Iman dan Istiqomah

TAUSIYAH-KU






Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Ikhwahfillah tahukah 2 hal yang harus kita pegang teguh.
Apa itu?
Ya, Iman dan Istiqomah.
Dapat kita lihat dari 2 hadits berikut ini:

1.

عَنْ عَمْرٍو وَقِيْلَ أَبِيْ عَمْرَةَسُفْيَانَ بْنِ عَبْدِاللهِ الثَّقَفِي رَضِيَ اللهُ عَنْهَ , قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ , قُلْ لِيْ فِيْ اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً , لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًاغَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ , ثُمَّ اسْتَقِمْ . رواه مسلم

Dari Abu ‘Amr, dan ada yang mengatakan dari Abu ‘Amrah Sufyân bin ‘Abdillâh ats-Tsaqafi Radhiyallahu anhu, yang berkata : “Aku berkata, ‘Ya Rasulullah! Katakanlah kepadaku dalam Islam sebuah perkataan yang tidak aku tanyakan kepada orang selain engkau.’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah Azza wa Jalla,’ kemudian istiqâmahlah.’”
____________________________________________

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahîh. Diriwayatkan oleh Muslim (no. 38), Ahmad (III/413; IV/384-385), at-Tirmidzi (no. 2410), an-Nasâ-i dalam as-Sunanul Kubra (no. 11425, 11426, 11776), Ibnu Mâjah (no. 3972), ad-Dârimi (II/298), ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabîr (no. 6396, 6397, 6398), ath-Thayâlisi (no. 1327), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 21-22), Ibnu Abid Dun-ya dalam ash-Shamt (no. 7), al-Hâkim (IV/313), Ibnu Hibbân (no. 938, 5668, 5669, 5670, 5672-at-Ta’lîqâtul Hisân), al-Baihaqi dalam Syu’abul Imân (no. 4572, 4574, 4575), dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 16).
____________________________________________

2. Pada riwayat Imam Ahmad, at-Tirmidzi, an-Nasâi, dan Ibnu Mâjah ada tambahan:

قُلْتُ : يَارَسُوْلَ اللهِ, مَاتَخَافُ عَلَيَّ؟ فَأَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِطَرْفِ لِسَانِ نَفْسِهِ , ثُمَّ قَالَ: هَذَا

Aku berkata : “Ya Rasulullah! Apakah sesuatu yang paling engkau khawatirkan padaku?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang ujung lidahnya sendiri kemudian berkata, “Ini”
Imam at-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahîh.” Ikhwah, perkataan sahabat Rasulullah pada hadits pertama, “Katakanlah kepadaku dalam Islam sebuah perkataan yang tidak aku tanyakan kepada orang selain engkau.”
Maksudnya sahabat meminta diajarkan suatu perkataan tentang pengertian Islam yang jelas bagi dirinya sehingga ia tidak perlu lagi menanyakan tafsirnya kepada orang lain dan ia akan mengerjakannya.” Kemudian Rasulullah menjawab, “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah Azza wa Jalla,’ kemudian istiqâmahlah.” Maksudnya adalah ucapkanlah bahwa kita beriman kepada Allah dan istiqomahlah (konsisten-red). Dan, pada hadits kedua ditanyakan "Apakah sesuatu yang paling engkau khawatirkan padaku?", Maka Rasulullah memegang ujung lidahnya sendiri kemudian berkata, "ini"
Menunjukkan yang paling berbahaya pada diri kita adalah lidah.

Dari sini kita dapat simpulkan, sebagai manusia yang harus kita lakukan adalah beriman dengan sebaik-baiknya, konsisten dalam beribadah dan jauhilah larangan-Nya. Dan yang paling berbahaya dalam diri kita adalah Lidah. Ucapan kita bisa bermanfaat tapi bisa juga menusuk perasaan.

Maka dari itu ikhwah, kita harus selalu perbaiki diri.
Semangat!

©MCNR FSI-KU FBS UNJ 2017
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar