أهلا وسهلا

أهلا وسهلا

Senin, 15 Mei 2017

Serba-Serbi TAUSIYAH-KU

TAUSIYAH-KU (Minggu, 14 Mei 2017)


💫HUKUM GHIBAH DALAM ISLAM💫
.
.
Assalamualaikum ihwahfillah, pasti kalian pernah dong yang namanya ngomongin kejelekan teman saat jam kuliah atau saat sedang jalan main.
Wahhh tau gak sih itu termasuk ghibahh lohh!!!
.
Berikut ini penjelasannya 👇
.
Gosip, bergunjing, atau membicarakan aib/kejelekan orang lain dalam Islam disebut ghibah.
Ghibah dilarang dalam Islam. Dalam satu riwayat dari Abu Hurairah, terdapat percakapan sahabat dengan Rasulullah Saw. “Apakah ghibah itu?” tanya seorang sahabat. “Ghibah adalah memberitahu kejelekan orang lain!” jawab Rasul. “Kalau keadaaannya memang benar?” tanya sahabat lagi. ”Jika benar itulah ghibah, jika tidak benar itulah dusta!” tegas Rasulullah.
“Tahukah kamu apa ghibah itu? Para sahabat menjawab, “Allah dan rasulNya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Menyebut-nyebut sesuatu tentang saudaramu hal-hal yang dia tidak sukai.” (HR. Muslim).
Berikut hukum gibah
Orang yang suka gosip atau ghibah diibaratkan seperti “memakan bangkai saudaranya sendiri” sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam Al-Quran:
"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.
Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS 49:12)
Jabir bin Abdullah ra. meriwayatkan, “Ketika kami bersama Rasulullah Saw, tiba-tiba tercium bau busuk yang menyengat seperti bau bangkai. Maka Rasul pun bersabda, “Tahukah kalian, bau apakah ini? Inilah bau dari orang-orang yang meng-ghibah orang lain”. (HR Ahmad).
“Tiada seseorang yang menutupi cacat seseorang di dunia, melainkan kelak di hari kiamat Allah pasti akan menutupi cacatnya” (HR. Muslim). Wallahu a'lam bish-shawab.
.
.
©MCNR FSI-KU FBS UNJ 2017


TAUSIYAH-KU (Sabtu, 13 Mei 2017)




Etika Memberi Nasihat dan Kritik dalam Islam
Nasihat itu baik. Demikian juga kritik konstruktrif bagi perbaikan diri seseorang. Namun, nasihat dan kritik harus disampaikan dengan tepat, terutama dalam hal cara (how) dan waktu (timing).
Dalam Islam, nasihat harus disampaikan dengan bijak sehingga tidak mempermalukan.
Berikut ini etika memberi nasihat dalam Islam sebagaimana dikemukakan dalam Syarah ‘Arbain an-Nawawiyah.

*Pertama*, janganlah ikatan pertemanan, persaudaraan, dan lainnya yang ada di antara kita dengan orang lain membuat kita merasa enggan atau tidak enak hati untuk menasihati orang tersebut bila ia melakukan kemungkaran. Karena sesungguhnya, persaudaraan sejati adalah persaudaraan yang dilakukan karena Allah, cinta dan benci pun karena Allah.

*Kedua*, hendaklah nasihat itu dilakukan dengan cara yang baik, bukan dengan celaan dan hinaan, atau cara-cara kasar lainnya. Sungguh banyak manusia yang susah menerima nasihat, apalagi jika nasihat yang dilakukan dengan cara yang kasar, maka akan semakin kecil kemungkinan nasihat itu diterima.

*Ketiga*, hendaklah nasihat dilakukan bukan di depan umum atau di depan orang lain, akan tetapi lakukanlah nasihat dengan pribadi, dengan empat mata. Sesungguhnya manusia tidak suka bila kesalahannya diketahui oleh orang lain, apalagi oleh orang banyak, maka jika engkau menasihati manusia di depan umum, maka seolah-olah engkau tengah membuka aibnya di depan umum, dan tentu orang tersebut akan tidak suka sehingga akan semakin kecil kemungkian dia menerima nasihatmu.

*Keempat*, tidak ada kewajiban bagi kita untuk memastikan seseorang yang kita nasihati untuk menerima nasihat kita. Kewajiban kita sebatas memberi nasihat sebaik mungkin, bila diterima itu yang terbaik baginya, dan bila ditolak maka itu urusannya dengan Robbnya.

*Kelima*, jangan lupa iringi nasihat dengan doa, agar orang yang kita nasihati mau kembali kepada kebenaran. Wallahu a’lam bish-showab.

©MCNR FSI-KU FBS UNJ 2017




TAUSIYAH-KU (Jumat, 12 Mei 2017)




             🕌BERSIN DAN MENGUAP MENURUT ISLAM🕌
Bagaimana kita Menguap dan Bersin Menurut Islam?
Ikhwafillah,kita dapat memahami beberapa hadits Nabi Muhammad Saw tentang menguap dan bersin. Risalah Islam memang agama sempurna. Hanya masalah sekecil ini pun menjadi perhatian sehingga kaum Muslim bisa menjalani hidupnya dengan benar dan di ridhai oleh Allah Swt. 

MENGUAP
"Menguap adalah dari setan. Karena itu, apabila salah seorang dari kalian menguap, tutuplah serapat mungkin karena ketika salah seorang dari kalian berkata ‘huah’ (pada saat menguap), setan akan menertawakannya." (HR. Bukhari).
Etika Menguap Dalam Ensiklopedi Adab Islam terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi’i disebutkan, berdasarkan hadits-hadits di atas, maka etika atau adab seorang Muslim dalam menguap adalah sebagai berikut:
1. Meletakkan tangan di mulut agar mulut tidak terbuka. Saat manusia menguap dengan mulut terbuka itu, ia terlihat buruk dan saat itu juga setan sedang menertawakannya.
2. Tidak mengeluarkan suara ‘aaah ’ atau "huwaaah". yang akan menimbulkan tertawaan setan.
3. Tidak mengangkat suara.Terkadang sebagaian orang jahil mengangkat suaranya ketika meng uap dengan maksud ingin membuat sekelilingnya tertawa. Tentunya setan juga menertawakannya. 
 
BERSIN
“Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Karenanya apabila salah seorang dari kalian bersin lalu dia memuji Allah, maka kewajiban atas setiap muslim yang mendengarnya untuk mentasymitnya (mengucapkan yarhamukallah). Adapun menguap, maka dia tidaklah datang kecuali dari setan. Karenanya hendaklah menahan menguap semampunya. Jika dia sampai mengucapkan ‘haaah’, maka setan akan menertawainya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Ababila salah seorang dari kalian bersin, hendaknya dia mengucapkan, “alhamdulillah” sedangkan saudaranya atau temannya hendaklah mengucapkan, “yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu). Jika saudaranya berkata ‘yarhamukallah’ maka hendaknya dia berkata, “yahdikumullah wa yushlih baalakum (Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki hatimu).” (HR. Bukhari dan Muslim). 
 
Jadi, kita harus selalu senantiasa mengingat untuk berdoa setelah bersin dan berusaha untuk mengurangi dan menutupi menguap, semoga dengan berdoa kita mendapatkan perlindungan dari Allah SWT dari pengaruh syaitan.
 
©MCNR FSI-KU FBS UNJ 2017



TAUSIYAH-KU (Kamis, 11 Mei 2017)



Ikhwah, apa itu sedekah?
Ya, sedekah itu artinya memberi sesuatu yang menyenangkan kepada orang lain, seperti harta atau sekadar senyuman manis.
Sedekah pun tidak hanya dalam bentuk harta, Ikhwah. Sedekah --dalam bentuk harta-- tidak mengurangi harta. Justru sedekah dapat menambah keberkahan harta, makin bertambah manfaat dan jumlah harta. Sedekah juga menolak bala atau bencana, mencegah api neraka, bisa menyembuhkan penyakit, menambah umur, dan mencegah kematian yang buruk.
Berikut beberapa hadits tentang keutamaan sedekah :

1. "Takutlah engkau kepada neraka, sekalipun dengan jalan bersedekah dengan potongan kurma, maka barangsiapa tidak dapat menemukan itu maka hendaklah besedekah dengan mengucapkan perkataan yang baik.” Muttafaqun ‘alaih

2. "Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah, beramar ma’ruf dan nahi munkar yang kalian lakukan untuk saudaranya juga sedekah, dan kalian menunjukkan jalan bagi seseorang yang tersesat juga sedekah.”
(HR. Tirmizi dan Abu Dzar).

3. "Kamu menyingkirkan batu, duri dan tulang dari tengah jalan itu adalah sedekah bagimu”
(HR. Bukhari).

4. "Peliharalah harta bendamu dengan cara mengeluarkan zakat. Dan obatilah penyakitmu dengan sedekah. Dan hadapilah cobaan yang datang bertubi-tubi dengan do’a dan merendahkan diri kepada Allah.”
(HR. Abu Daud)

5. "Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan menafkahkan sebuah kurma.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Dari sini kita dapat tahu bahwa sedekah itu tidak mengurangi harta kita, malah menambah keberkahan kita, Ikhwah. Sedekah pun bisa dengan hal sederhana yang dapat menyenangkan orang-orang disekitar kita, seperti tersenyum.
Wallahu a'lam.

©MCNR FSI-KU FBS UNJ 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar